Rachel Ashley Platten lahir 20 Mei 1981 adalah seorang penyanyi dan penulis lagu Amerika. Dia terkenal di tahun 2015 dengan membawakan sebuah single "Fight Song"
Minggu, 19 Juli 2015
Fargo
Tv Series Dengan judul fargo..
Dari sisi screenplay, Fargo is pretty much the same with the old Fargo:
ia menyampaikan kisah sederhana, namun penuh studi karakter yang
mempesona mengenai sekumpulan manusia yang menghadapi sesuatu hal yang
tak biasa (bahkan tergolong luar biasa), dan memperlihatkan apa yang
akan para karakter itu hadapi, dan bagaimana reaksi mereka terhadapnya.
Latar belakang suatu lingkungan yang masih cukup konvensional juga
berperan besar dalam membangun tone komedi gelap yang juga kaya akan cucuran darah di tengah shock tragedy yang terjadi dalam masyarakat. Ini bukan sebuah kisah kriminal biasa, ini adalah kisah kejatahatan yang down-to-earth, namun penuh kecerdasan yang luar biasa kompleks.
Tapi, Fargo juga bukan Fargo yang lama, mereka masih punya batas yang
jelas di antara keduanya. Noah Hawley selaku penulis naskah tak sekadar
menciptakan sebuah penceritaan ulang, namun lebih dari itu, menceritakan
kisah berbeda namun masih dengan nafas yang sama dengan pendahulunya.
Tentu, kisah ini lebih kompleks dengan 10 episodenya, lebih banyak
karakter, lebih banyak darah, lebih sadis, tapi apa yang membuat TV series ini begitu istimewa adalah membawa kisah itu dengan nafas Fargo yang dulu, menggabungkan sebuah kisah modern namun dengan tone penuh nostalgia.
Perlu diingat, kendati merupakan sebuah kisah kriminal, Fargo tetaplah sebuah dark comedy. And, Fargo still has that vibe, sekalipun dengan porsi yang lebih sedikit dibanding pendahulunya. Dialog-dialog
hadir dengan pengemasan cerdas, tetap memancarkan sebuah komedi hitam,
namun kadang mempertanyakan berbagai pertanyaan yang memutar otak. Di
lain sisi, beberapa scene tampil komikal dan awkward khas dark comedy, tapi di saat yang sama, tetap dapat mempertahankan tone kriminalnya. Yeah, hitting a wife with an axe till death has never been this 'funny'. Tapi, berbicara soal humor seperti ini, rasanya tak akan lengkap tanpa membicarakan sang villain, Lorne Malvo. He has such a great sense of humor! What a villain.
Membicarakan Fargo memang berarti membicarakan para karakternya. Ya,
apalah arti Fargo tanpa karakter-karakter yang kaya cerita itu. Fargo
memusatkan perhatianya kepada Lester Nygaard, yang boleh jadi merupakan
orang tersial yang pernah ada. Berangkat dari seorang lelaki biasa
dengan istri bermulut lebar, yang kemudian kehidupannya berubah setelah
sebuah tragedi secara 'tak sengaja' terjadi, yang membawanya pada satu
sisi yang ia pun tak pernah sangka merupakan bagian dari dirinya. Kita
dapat melihat definisi 'good guy gone bad' di dalam dirinya.
Martin Freeman adalah orang yang tepat melakonkan Lester. Lester tampak
seperti Bilbo Baggins, seorang pengecut dengan gaya bicara gagap, namun
dengan keadaan yang memaksa keduanya berubah, Bilbo berubah menjadi
seorang antihero yang pemberani, sementara Lester perlahan memunculkan sisi monsternya yang makin terasah.
Meskipun begitu, Lorne Malvo-lah yang menguasai semuanya dan pada dia
lah semua mata tertuju. Ia merupakan orang yang mengontrol segalanya,
penyebab dari tragedi demi tragedi, dan orang yang selalu mampu
mengalihkan perhatian penonton. Dimainkan dengan sempurna oleh Billy Bob
Thornton, ia layaknya seorang peneliti yang mempraktekkan langsung
teorinya tentang sebuah studi karakter manusia. Ia kriminal yang jenius,
tahu apa yang ia lakukan, tapi apa yang paling istimewa dari sosok ini
adalah bagaimana cara ia berhadapan dengan tiap masalah, ketenangannya,
hingga cara bicaranya yang manipulatif. Dandanannya mungkin menyedihkan,
tapi dibalik gaya rambut dengan poni yang buruk itu, terselip salah
satu otak kriminal terhebat sepanjang sejarah. It's a good thing he's a fictional character.
Sebagai sutradara, the 5 directors did a great job. Mereka sukses dalam menyeimbang dua tone Fargo yang saling bertolakbelakang. Ini bukan melulu soal kejahatan, ini adalah gabungan dari banyak genre yang saling terdepan dalam tiap sisi. Intensitas mampu terjaga dengan cukup konsisten, meski tak bisa dipungkiri lows itu tetap ada. Tapi, lihat bagaimana semua itu dikemas. Lihat bagaimana (oops, spoiler) Lorne
membantai sebuah gedung dengan kamera yang hanya mengikutinya dari luar
gedung, bergerak dari lantai ke lantai, hingga diakhiri klimaks
fantastis. Lalu, lihat pula bagaimana Lorne mengelabui para pihak
berwajib dengan sebuah masterplan luar biasa. Belum cukup, ini
hanyalah dua dari banyaknya eksekusi brilian penuh ledakan intens yang
mewarnai 10 episode Fargo ini.
Well, Fargo bukan berarti hadir tanpa cacat. Sekalipun screenplay racikan
Noah Hawley memang cerdas, padat, dan merupakan salah satu yang terbaik
di tahun ini, namun ini tidak membebaskannya dari beberapa detil yang
tertinggal dan terasa janggal. Ada beberapa karakter di awal yag
terlihat cukup krusial, namun nyatanya memang tak sekrusial itu. Selain
itu, mungkin ada beberapa aspek di klimaks yang tak ditemani oleh detail
yang lebih jelas. Sure, i'm not going to tell you which aspect. Meski begitu, terlepas dari kekurangan minor tersebut, Fargo tetaplah sebuah penghidupan karya klasik yang sangat berhasil.
Ya, Fargo telah bangkit kembali, lewat sebuah lika liku kriminalitas yang tak hanya kompleks dan unpredictable seperti kisah crime yang lain, namun juga cerdas sembari tetap sukses dalam menggali tiap sisi humornya. Tone-nya
terjaga baik, dengan sisi gelap dan terang yang cukup seimbang, membawa
penonton kembali pada karya Coen Brothers. Karakter-karakter hadir
dengan ciri tersendiri, lekat di ingatan, dan mampu berkembang dengan
baik, dengan Billy Bob Thornton serta Martin Freeman yang berada pada
lampu sorot. Lewat screenplay-nya yang berlatar sederhana di
tengah masyarakat yang tak terbiasa kasus serupa, ini membuat penonton
mudah terhubung dengan kisahnya yang cukup kompleks. Belum lagi, setiap
kisah mampu dikemas dengan brilian yang disertai kemampuan teknis level
atas, thanks to the wonderful directors. Hats off!
thank all
Perlu diingat, kendati merupakan sebuah kisah kriminal, Fargo tetaplah sebuah dark comedy. And, Fargo still has that vibe, sekalipun dengan porsi yang lebih sedikit dibanding pendahulunya. Dialog-dialog
hadir dengan pengemasan cerdas, tetap memancarkan sebuah komedi hitam,
namun kadang mempertanyakan berbagai pertanyaan yang memutar otak. Di
lain sisi, beberapa scene tampil komikal dan awkward khas dark comedy, tapi di saat yang sama, tetap dapat mempertahankan tone kriminalnya. Yeah, hitting a wife with an axe till death has never been this 'funny'. Tapi, berbicara soal humor seperti ini, rasanya tak akan lengkap tanpa membicarakan sang villain, Lorne Malvo. He has such a great sense of humor! What a villain.
Membicarakan Fargo memang berarti membicarakan para karakternya. Ya,
apalah arti Fargo tanpa karakter-karakter yang kaya cerita itu. Fargo
memusatkan perhatianya kepada Lester Nygaard, yang boleh jadi merupakan
orang tersial yang pernah ada. Berangkat dari seorang lelaki biasa
dengan istri bermulut lebar, yang kemudian kehidupannya berubah setelah
sebuah tragedi secara 'tak sengaja' terjadi, yang membawanya pada satu
sisi yang ia pun tak pernah sangka merupakan bagian dari dirinya. Kita
dapat melihat definisi 'good guy gone bad' di dalam dirinya.
Martin Freeman adalah orang yang tepat melakonkan Lester. Lester tampak
seperti Bilbo Baggins, seorang pengecut dengan gaya bicara gagap, namun
dengan keadaan yang memaksa keduanya berubah, Bilbo berubah menjadi
seorang antihero yang pemberani, sementara Lester perlahan memunculkan sisi monsternya yang makin terasah.
Meskipun begitu, Lorne Malvo-lah yang menguasai semuanya dan pada dia
lah semua mata tertuju. Ia merupakan orang yang mengontrol segalanya,
penyebab dari tragedi demi tragedi, dan orang yang selalu mampu
mengalihkan perhatian penonton. Dimainkan dengan sempurna oleh Billy Bob
Thornton, ia layaknya seorang peneliti yang mempraktekkan langsung
teorinya tentang sebuah studi karakter manusia. Ia kriminal yang jenius,
tahu apa yang ia lakukan, tapi apa yang paling istimewa dari sosok ini
adalah bagaimana cara ia berhadapan dengan tiap masalah, ketenangannya,
hingga cara bicaranya yang manipulatif. Dandanannya mungkin menyedihkan,
tapi dibalik gaya rambut dengan poni yang buruk itu, terselip salah
satu otak kriminal terhebat sepanjang sejarah. It's a good thing he's a fictional character.
Sebagai sutradara, the 5 directors did a great job. Mereka sukses dalam menyeimbang dua tone Fargo yang saling bertolakbelakang. Ini bukan melulu soal kejahatan, ini adalah gabungan dari banyak genre yang saling terdepan dalam tiap sisi. Intensitas mampu terjaga dengan cukup konsisten, meski tak bisa dipungkiri lows itu tetap ada. Tapi, lihat bagaimana semua itu dikemas. Lihat bagaimana (oops, spoiler) Lorne
membantai sebuah gedung dengan kamera yang hanya mengikutinya dari luar
gedung, bergerak dari lantai ke lantai, hingga diakhiri klimaks
fantastis. Lalu, lihat pula bagaimana Lorne mengelabui para pihak
berwajib dengan sebuah masterplan luar biasa. Belum cukup, ini
hanyalah dua dari banyaknya eksekusi brilian penuh ledakan intens yang
mewarnai 10 episode Fargo ini.
Well, Fargo bukan berarti hadir tanpa cacat. Sekalipun screenplay racikan
Noah Hawley memang cerdas, padat, dan merupakan salah satu yang terbaik
di tahun ini, namun ini tidak membebaskannya dari beberapa detil yang
tertinggal dan terasa janggal. Ada beberapa karakter di awal yag
terlihat cukup krusial, namun nyatanya memang tak sekrusial itu. Selain
itu, mungkin ada beberapa aspek di klimaks yang tak ditemani oleh detail
yang lebih jelas. Sure, i'm not going to tell you which aspect. Meski begitu, terlepas dari kekurangan minor tersebut, Fargo tetaplah sebuah penghidupan karya klasik yang sangat berhasil.
Ya, Fargo telah bangkit kembali, lewat sebuah lika liku kriminalitas yang tak hanya kompleks dan unpredictable seperti kisah crime yang lain, namun juga cerdas sembari tetap sukses dalam menggali tiap sisi humornya. Tone-nya
terjaga baik, dengan sisi gelap dan terang yang cukup seimbang, membawa
penonton kembali pada karya Coen Brothers. Karakter-karakter hadir
dengan ciri tersendiri, lekat di ingatan, dan mampu berkembang dengan
baik, dengan Billy Bob Thornton serta Martin Freeman yang berada pada
lampu sorot. Lewat screenplay-nya yang berlatar sederhana di
tengah masyarakat yang tak terbiasa kasus serupa, ini membuat penonton
mudah terhubung dengan kisahnya yang cukup kompleks. Belum lagi, setiap
kisah mampu dikemas dengan brilian yang disertai kemampuan teknis level
atas, thanks to the wonderful directors. Hats off!
thank all
Jumat, 17 Juli 2015
Susah tidur
Woww, My frist blog ...
Pertama bikin blog ternyata judulnya susah tidur, ya begitu lah.
Sejak awal puasa tahun 2015 saya memang tidak ada kegiatan apapun , kegiatan saya hanya tidur makan tidur makan , hal hasil badan saya lumayan membengkak, tapi tetap slim.
Pertama bikin blog ternyata judulnya susah tidur, ya begitu lah.
Sejak awal puasa tahun 2015 saya memang tidak ada kegiatan apapun , kegiatan saya hanya tidur makan tidur makan , hal hasil badan saya lumayan membengkak, tapi tetap slim.
Langganan:
Postingan (Atom)


